selamatlah alam semesta

Sabtu, 02 Juli 2011

Medical First Responden (MFR)

Medical First Responder

Adalah Penolong yang pertama kali tiba di lokasi kejadian, yang memiliki kemampuan medis dalam penanganan kasus gawat darurat, yang terlatih untuk tingkat paling dasar

Kewajiban MFR

Menjaga keselamatan diri, anggota tim, korban dan orang – orang di sekitar
Menjangkau korban
Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam jiwa
Meminta bantuan
Memberikan pertolongan pertama berdasarkan keadaan korban
Membantu pelaku pertolongan lainnya
Ikut menjaga kerahasiaan medis korban
Berkomunikasi dengan petugas lain yang terlibat
Mempersiapkan penderita untuk ditransport ke tempat pelayanan medis

Kualitas MFR

Tanggung jawab
Kemampuan bersosialisasi
Kejujuran
Kebanggaan (higiene, seragam, pendidikan)
Kematangan emosi
Berlaku profesional
Kondisi fisik baik
Kemampuan nyata terukur

Peralatan Dasar MFR

Sarung tangan
Kacamata pelindung
Baju pelindung
Masker penolong
Masker CPR/RJP

Perlindungan Diri

Dasar pemikirannya adalah semua darah dan cairan yang keluar dari tubuh korban bersifat menular sehingga perlu untuk perlindungan terhadap tubuh penolong sebagai upaya preventif.

Beberapa tindakan umum untuk menjaga diri adalah :

Mencuci tangan
Membersihkan alat

Membersihkan : hanya menghilangkan bekas atau noda saja
Disinfektan : memakai bahan pembunuh kuman
Sterilisasi : proses khusus untuk menjadi bebas kuman

3. Memakai APD
Anatomi Manusia

Secara global tubuh manusia dibagi menjadi 4 bagian utama :

Kepala (Cranium)
Leher
Batang Tubuh (togok)
Alat Gerak (Ekstrimitas)

Penilaian / Pemerikasaan Korban

Penilaian keadaan (scene assessment) :

Bagaimana kondisi saat itu
Apakah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi
Bagaimana mengatasinya

Lokasi

Pada saat tiba di lokasi kejadian seorang MFR harus :

Memastikan keselamatannya (termasuk pemakaian APD)
Memastikan keselamatan penderita
Menentukan keadaan / kesan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini pada korban (bila sadar) perkenalkan diri
Mengenali dan mengatasi cedera / gangguan yang mengancam jiwa
Stabilkan dan teruskan pemantauan penderita

Perkenalkan diri

Nama dan organisasi
Kemampuan menolong
Ijin untuk menolong

Sumber Informasi Langsung

Kejadian itu sendiri
Penderita (bila sadar)
Keluarga atau saksi
Mekanisme kecelakaan
Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang jelas
Gejala dan tanda yang spesifik suatu cedera atau penyakit

Penilaian Dini / Awal

Suatu proses untuk mengenali dan mengatasi keadaan yang dapat mengancam keselamatan / nyawa korban. Langkah – langkah dalam melakukan penilaian dini / awal terhadap korban antara lain :

1. Kesan Umum

Tentukan kasus trauma atau medis

2. Periksa respon / tingkat kesadaran

Ada 4 (empat) tingkatan yang umum dipakai untuk menentukan tingka respon seseorang yaitu Alert (sadar), Verbal (suara), Painful (nyeri) dan Unresponsive (Tidak ada respon sama sekali).

A = Alert, penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya

V = Verbal, penderita hanya bereaksi apabila dipanggil

P = Painful, penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri

U = Unresponsive, penderita tidak bereaksi terhadap respon apapun. Tidak membuka mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi terhadap rangsang nyeri. Seseorang dalam keadaan tidak sadar yang berat tentunya memerlukan jalan napas yang baik dan pertolongan pendukung lainnya.

3. Pastikan jalan napas (Airway) terbuka dengan baik

4. Nilai pernapasannya

5. Nilai sirkulasi dan hentikan perdarahan berat bila ada

6. Hubungi bantuan

Penilaian dini / awal harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancam jiwa sudah harus ditanggulangi sebelum melanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Pemeriksaan Fisik

Penilaian dini dimaksudkan untuk dapat segera mengenali dan mengatasi bahaya yang mengancam jiwa
Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan yang meliputi seluruh tubuh penderita. Tujuannya untuk menemukan berbagai tanda sehingga memudahkan dalam penanganannya.
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis dan berurutan, biasanya dimulai dari ujung kepala samapai ujung kaki, namun bisa berubah sesuai kondisi korban.

Prinsip Pemerikasaan Korban

Pemeriksaan korban merupakan suatu keterampilan yang harus dilatih. Tindakan ini melibatkan panca indera kita berupa :

Penglihatan (inspection)
Pendengaran (Auscultation)
Perabaan (Palpation)

Pemeriksaan

Cara memeriksa korban kecelakaan (trauma) berbeda dengan penderita penyakit (medis). Tanda-tanda dari suatu cedera dapat jelas terlihat dan teraba. Masalah medis lebih berupa gejala yang dirasakan hanya oleh penderita. Untuk mendapatkan data yang lengkap kita harus membuat penderita menjelaskan gejalanya dengan baik dan jelas.

Trauma Medis
Wawancara 20 % 80 %
Pemeriksaan 80 % 20 %

Pada cedera beberapa hal yang harus dicari adalah

Perubahan Bentuk (Deformity)
Luka Terbuka (Open Injury)
Nyeri Tekan (Tenderness)
Pembengkakan (Swelling)

Beberapa tanda mungkin sangat nyata, sedang yang lainnya mungkin terlewati, biasanya pada cedera alat dalam dan cenderung serius.

Pada saat melakukan pemeriksaan selalu perhatikan penderita. Perhatian menunjukkan bahwa kita bertujuan baik dan biasanya akan memudahkan kita memperoleh data yang dibutuhkan.

Pemeriksaan Fisik Ujung Kepala – Ujung Kaki

1. Kepala

- Kulit kepala dan tulang tengkorak

- Telinga dan hidung

- Anak mata (pupil)

- Mulut

2. Leher

3. Dada

- Tampak luar, tulang dada, tulang rusuk

4. Perut

- Pemeriksaan ketegangan dinding perut

- Luka yang ada

5. Punggung

- Bagian dada belakang

- Tulang belakang

6. Panggul

- Tulang-tulang

- Bagian dalam

- Kemaluan

7. Alat gerak bawah

8. Alat gerak atas

Riwayat Penderita

Tanda dan Gejala (Sign and Simpton)
Alergi (Allergies)
Pengobatan (Meditation)
Riwayat Penyakit Sekarang (Pertinent History)
Makan/minum Terakhir (Last Oral Intake)
Peristiwa (Event)

Tanda-tanda Vital

Parameter yang dikelompokkan dalam tanda vital adalah

Denyut nadi
Frekuensi pernapasan
Suhu tubuh
Tekanan darah
Pupil mata

sumber : http://sarunpad.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar